Rabu, 28 September 2011

Kehadiran Yesus Membawa Perubahan

"KEHADIRAN YESUS  MEMBAWA PEMULIHAN 
BAGI ORANG PERCAYA"  Yoh 5: 1-9
Seberapa banyak diantara saudara yang mengalami kelemahan, putus asa, beban berat, dan letih jiwa? Adakah dari antara saudara yang hadir disini ingin menikmati kehadiran-Nya? Maukah saudara membuka hati saudara saat firman Tuhan diberitakan? Sesungguhnya Tuhan sedang menunggu saudara dalam kasih-Nya dan Ia ingin memulihkan keadaan saudara dalam kehadiran-Nya. Amin?  Karena Tuhan kita adalah Allah yang pengasih, dan Ia ingin memulihkan keadaan kita sehingga kita berkenan kepada-Nya! Allah kita besar Amin?
Kita yang hidup di dunia pasti pernah mengalami masalah, menghadapi tantangan, dan ada kalanya kita menemui jalan buntu. Setuju? Tetapi Tuhan mau kita membuka hati dan pikiran kita untuk mendengar sabda Tuhan dalam Injil Yohanes 5:1-9.
Yoh 5:  1 Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. 2  Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya 3 dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. 4 Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya. 5 Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. 6 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?" 7 Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." 8 Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." 9 Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.
Haleluya! Setelah mendengar firman ini saudara mau dipulihkan? Tuhan mau memberikan kelegaan kepada saudara, Amin? Oleh karena itu mari buka hatimu…
Dalam cerita yang kita baca itu diceritakan tentang Tuhan kita yang dahsyat. Tuhan Yesus ketika itu sedang berangkat ke Yerusalem (ayat 1) dan disana dituliskan; Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi.” Berarti Yesus sedang pergi ke tempat dimana yang ada perayaan. Jika ada perayaan pasti ada sukacita, setuju? Bagi kita yang hidup di Indonesia perayaan seperti itu sudah lumrah kita temui. Misalnya; saat Natal, Shin-Cia, Idul Fitri, Hari Kurban, dll. Dalam perayaan ada suatu sukacita. Atau ada diantara saudara yang ketika hari raya tiba malah menangis tersedu-sedu dengan sedihnya dan berkabung? Mungkin ada tetapi itu tidak biasa. Nah, Yesus hadir di Yerusalem, Ia berangkat dari Galilea (ayat 54) untuk pergi ke Yerusalem; tempat yang penuh dengan orang yang bersukacita karena hari itu hari raya. Jarak terdekat antara Galilea dan Yerusalem adalah 278 Km. Coba bayangkan saudara berjalan sedemikian jauh… pasti kaki saudara sudah bengkak semua bagaikan terkena penyakit kaki gajah. Adakah dari saudara yang ingin kakinya terkena penyakit kaki gajah? Jika ada yang mau, pasti dengan senang hati saya doakan….
Kita kembali pada teks; tetapi Tuhan kita mau berjalan sedemikian jauh demi berangkat ke Yerusalem. Namun apakah Yesus pergi ke Yerusalem demi ikut bersenang-senang? Tidak! Yesus datang ke tempat orang yang bersukacita, namun Ia memperhatikan orang-orang yang sengsara.
­Mari kita lihat ayat 2-5. Di sana terdapat keanehan; kalau tadi diceritakan tentang hari raya kenapa diceritakan tempat orang sakit? Bukankah kalau ada perayaan itu harusnya diceritakan bagaimana meriahnya, sukacitanya, semaraknya, dan megahnya? Tetapi dalam konteks Injil Yohanes ini, sesungguhnya bermaksud untuk mencelikkan mata kita bahwa di dunia terdapat orang yang senang dan susah. Kalau kita melihat film atau sinetron produk Indonesia, maka disana sering terlihat bagaimana kehidupan yang mewah, dan orang-orang kaya ditampilkan. Jarang ditampilkan bagaimana kehidupan kemiskinan, orang-orang yang putus-asa, dan orang-orang yang tidak punya apa-apa.
Ketika Tuhan Yesus tiba di Yerusalem, Ia pergi ke sebuah kolam bernama ‘Betesda,’ tempat orang-orang sengsara itu (ayat 6). Ini pelajaran untuk kita; Tuhan Yesus datang ke dunia bukan untuk bersenang-senang dalam kemewahan, tetapi memperhatikan orang-orang yang lemah. Dikala Yerusalem sedang ramai dan bersukacita karena sedang ada hari raya, Yesus pergi ke Betesda, tempat orang-orang sakit berkumpul. Betesda (Bhqzaqa.) berarti  “Rumah Kemurahan,” tetapi didalamnya berisi orang-orang sakit yang tersingkir dari rasa sukacita. Disana terdapat cerita bahwa jika air di dalam kolam itu berguncang, itu pertanda bahwa malaikat Tuhan turun, dan yang pertama memasuki kolam itu akan sembuh dari penyakitnya. Karena itulah banyak orang sakit yang menunggu terguncangnya air kolam itu (ayat 3-4). Ke tempat seperti itulah Yesus pergi. Pernahkah saudara membayangkan TUHAN, Allah semesta alam mengunjungi ciptaan-Nya yang paling lemah? Ya benar, TUHAN, Allah semesta alam memperhatikan orang-orang yang terpinggir, TUHAN yang mengendalikan hidup memperhatikan orang yang sedang sakit, putus-asa, dan berbeban berat. Itulah Tuhan kita, Dia begitu mengasihi kita. percayalah, TUHAN kita memperhatikan kita yang lemah! Amin! Oleh karena itu jangan takut ketika kita sedang sendiri, mengalami jalan buntu, dan sengsara, TUHAN beserta kita, Ia memperhatikan kita. Haleluya!
Ayat yang ke-5 dan 6 dikatakan bahwa; Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. 6  Ketika Yesus melihat orang itu berbaring…” Yesus berhenti didekat seorang yang berbaring di tepian kolam, namun harapannya sudah redup. Tiga puluh delapan tahun orang sakit itu berada dalam keadaan lemah. Dapat kita perkirakan bahwa orang itu lemah dalam syaraf motorik; lumpuh. Baginya kolam yang bernama “Rumah Kemurahan” itu tidak lagi dapat diharapkan. Ketika ia mau turun ke kolam saat airnya berguncang, orang lain sudah mendahuluinya. Selama tiga puluh delapan tahun ia menderita sakit. Harapannya mulai redup dan menghilang. Semakin lama semangat hidupnya pun turut terkikis. Apakah artinya hidup jika tidak ada harapan dan semangat? Tetapi Yesus memberikan kehadiran-Nya kepada orang-orang seperti ini. Tuhan Yesus hadir bagi saudara yang mengalami kekalutan hidup. Dia mengasihi saudara dan saya. Yesus hadir bagi kita. Percayalah!
Lalu Yesus berkata kepada orang yang lumpuh itu; "Maukah engkau sembuh?" (ayat 6b). Aneh sekali jika Yesus berkata kepada seorang yang sudah lama sakit seperti itu tentang kemauannya untuk sembuh. Banyak diantara kita pasti akan mengira; ya pasti mau! Ketika Yesus berkata demikian, pasti orang sakit itu teringat kembali akan harapan awalnya jika ia sembuh. Tetapi jawab orang itu pada ayat yang ke-7: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Harapannya pudar sudah. Sungguh menyedihkan. Ternyata ayat ke-7 menunjukkan pula bahwa ia seorang diri tanpa sahabat yang dapat membantunya. Sudah lama ia sakit, ketika harapan akan kesembuhan itu muncul kembali dilihatnya tiada orang yang dapat membantunya sampai ke kolam.  Lagipula di Betesda tidak ada sistem antre. Jika kolam berguncang, orang saling mendahului masuk ke kolam. Setiap orang memikirkan kesembuhannya sendiri. Betapa malang orang yang lumpuh seperti orang dihadapan Yesus. Dimana sahabatnya yang akan membantunya? Dimana orang yang mengasihinya? Tidak ada, mereka telah meninggalkannya… Adakah diantara saudara yang seperti orang lumpuh itu? Sudah menderita, masih ditinggalkan oleh sahabat dan teman?... tetapi bagi orang yang seperti itu Yesus hadir dan bertanya; "Maukah engkau sembuh?" Dengan pertanyaan ini, Yesus sesungguhnya mengingatkan orang itu kepada harapannya yang mula-mula untuk menerima kesembuhan. Saudara, Yesus bertanya kepada kita; dimana harapanmu? Maukah engkau disejahterakan? Dimana semangatmu yang mula-mula?
Ketika Yesus bertanya seperti itu, orang sakit itu sesungguhnya masih menaruh secercah harapan untuk sembuh. Benar semangatnya sudah redup, tetapi dengan pertanyaan Yesus itu, hatinya mulai disentuh dan pikirannya diputar sekali lagi untuk berharap. Pertanyaan itu sesungguhnya merupakan pertanyaan yang tajam dan mengena di hati. Bagi Yesus secercah harapan saja sudah cukup, dan setelah itu adalah bagian Tuhan; "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah" (ayat 8). Lalu keajaiban terjadi, kesembuhan diterima oleh orang itu. mula-mula ia mencoba berdiri, urat kakinya mulai kuat, dan ia dapat berjalan! Ia sembuh! Puji Tuhan! Lalu diangkatlah tilamnya dan pergi dari situ ke kota Yerusalem. Kini dengan kesembuhan yang diterimanya, ia dapat melihat sukacita dalam perayaan hari besar itu, tetapi yang paling penting bukanlah sukacita penduduk kota dan kemeriahannya, melainkan karunia kesembuhan yang dialaminya setelah tiga puluh delapan tahun hidup dalam semangat yang redup dan keadaan yang ditinggal oleh sahabat-sahabatnya. Inilah bukti bahwa kehadiran Yesus membawa pemulihan!
Itulah maksud Yesus. Semangat untuk hidup dan harapan hati sangatlah penting. Jika saudara mempunyai beban hidup yang membuat saudara putus-asa dan saudara merasa sendiri di dunia ini, ingatlah; Yesus mempertanyakan semangat kita, pengharapan kita, iman kita yang mula-mula! Dan ketika secercah harapan kita, kita nyatakan kepada Tuhan, Dia akan memulihkan keadaan kita! Dia akan memberi sentausa pada jiwa kita. Dialah Tuhan, Allah kita.
Kita yang hidup di dunia memang tidak luput dari segala permasalahan hidup yang dapat membuat kita terdesak. Tetapi ingat; Tuhan memperhatikan hati orang-orang yang sengsara! Tuhan juga hadir bagi saudara yang mengalami kekalutan hidup! Dan Dia akan memulihkan kita. Kehadiran Yesus membawa pemulihan bagi yang lemah!
Hari ini bukalah hatimu bagi Yesus, pahamilah dan rasakanlah kehadirannya yang mengasihimu. Dia akan memulihkan hatimu. Amin

Minggu, 18 September 2011

Belajar Mencukupkan diri dalam setiap keadaan

BELAJAR MENCUKUPKAN DIRI DALAM SETIAP KEADAAN
Filipi 4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
dalam perikop ini menceritakan atau kesaksian rasul Paulus ketika ia masih dalam penjara oleh karena injil. Disni Paulus mengutarakan bahwa intinya adalah supaya kita belajar dari dia yang selalu mencukupkan diri dalam setiap keadaan dan selalu mengucap syukur dalam diri kita baik dalam kelimpahan mau pun dalam kekurangan. rasul Paulus meninggalkan dan menganggap smuanya (harta kekayaan) sebagai sampah ketika ia mengenal Tuhan Yesus sebagai Tuhan Juruslamat dalam dirinya oleh karena ia tahu bahwa semua harta duniawi itu adalah sesuatu yang fana, sesuatu yang sementara artinya sia-sia belaka. Oleh sebab itu, ketika ia mengenal sudah percaya kepada Tuhan Yesus, ia menyerahkan hidupnya sepenuhnya hanya untuk kemuliaan bagi nama Tuhan.
            Rasul Paulus tidak lagi di ikat oleh hal-hal duniawi ketika ia mengenal Tuhan, tidak lagi menghambakan hidupnya pada perkara-perkara dunia. Kalau kita melihat dimana ketika ia  belum percaya kepada Tuhan, ia anti dengan kekristenan dan ia memiliki pengaruh yang sangat luar biasa, bahkan terpandang dan sangat di hargai. Ia di sanjung-sanjung oleh karena kehebatannya yang luar biasanya dalam memusnahkan orang-orang kristen pada waktu itu, tapi ketika ia sadar bahwa apa yang ia lakukan itu tidak benar, ia berbalik kepada Tuhan, melayani dan memiliki komitmen yang luar biasa lih Filipi 1:21.
            Rasul Paulus melayani Tuhan dengan semangat yang luar biasa dan itu bukan sekedar panas-panas tai ayam atau sekedar ingin menonjolkan diri dengan kata lain mau di puji-puji seperti ketika ia masih belum mengenal Tuhan tetapi ia benar-benar melakukan kebenaran firman Tuhan dan mencari jiwa untuk kemuliaan Tuhan semata-mata.
Apa yang membuat rasul Paulus tetap bertahan dalam setiap keadaan?
1.     Mengandalkan Tuhan dan memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan (contoh kita komunikasi dengan sesama melalui HP dll, kita butuh pengorbanan = uang, pulsa, bahkan waktu dan tenaga) – dengan Tuhan kita berarti harus melebihi dari semuanya itu.
2.     Fokus pada Komitmen
3.     Tidak lari dari panggilan, apapun tantangan yang di hadapinya (kematian sekalipun)
Jika kita mengandalkan Tuhan dalam hidup ini, apapun yang kitakita tidak akan mudah goyah, karena ada kekuatan ilahi dari Allah ada dalam hidup kita.


Bergantung Kepada Allah


Bergantung kepada Allah
Matius 6:25-33
1.     Manusia senantiasa khawatir
Fakta- fakta kehidupan di Indonesia, asia, Afrika dan diseluruh dunia:
-        Sifat masyarakat dan dunia kita tidak stabil.
-        Kekecewaan2 yang kita alami dari pihak yang sama sekali tidak diduga- dari teman2, relasi, dari pihak suami atau istri dan sebagainya.
-        Tingkat pengangguran yang terus meningkat ditengah masyarakat kita.
-        Meningkatnya biaya rumah tangga, dengan adanya penindasan oleh satu orang atas lain orang, perebutan kedudukan, nepotisme atau system family didalam jenjang lowongan pekerjaan; hal mana membuat orang miskin menjadi semakin miskin dan yang kaya semakin kaya. Akan tetapi setiap orang, yang kaya maupun yang miskin setiap hari membeli kebutuhan2 mereka sehari2 dari pasar atau toko yang sama dengan harga yang sama pula.
2.     Mereka mencari Pertolongan di tempat yang salah
Keadaan inilah justru telah menimbulkan kekhawatiran sehingga membuat  orang mencari pertolongan “disesuatu tempat”—biasanya ditempat yang tidak tepat atau salah.
-        Ditempat perjudian—disebuah desa masyarakatnya menjudikan uang mereka dengan bermain lotere dalam bentuk judi lainnya, akibat mereka kehilangan hartanya: sogokan, kedua2nya member dan menerima pemalsuan pembukuan. Ketidak setiaan terhadap suami maupun istri serta pengabaian terhadap anak2 dadalm uapaya untuk  memperoleh sesuatunya dengan cara tidak halal untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga.
-        Menggantungkan diri pada orang yang mempunyai kekuatan supernatural, hanya untuk memperoleh uang untuk kehidupan sehari2:
·       Pada kaum pelipatganda uang—disebuah desa masyarakatnya memberi semua uang mereka untuk dilipatgandakan, tetapi ternyata si tukang sulap melarikan diri dengan semua harta itu.
·       Pada tokoh2 rohani—yang secara tidak langsung menarik uang ari mereka melalui penjualan benda2 seperti lilin, sapu tangan dandisertai dengan permintaan sumbangan yang dapat mendatangkan berkah kelimpahan Allah.
·       Dukun2 yang mengaku dapat berhubungan dengan orang mati.
·       Penjaja jimat2 yang percaya pada tuyul, atau menjadikan anak mereka menjadi tumbal keuntungan. Alkitab banyak menyatakan tentang pencarian yang berlandaskan  rasa kekhawatiran dan bersandar  akan uang (I Tim 6:6-10; Ams 13:11; Ayub 31:24). Dan alkitab mengatakan tentang mereka yang mengabaikan Allah dan mempercayai atau mengandalkan makhluk halus, untuk mencukupkan kebutuhan mereka.
Yeremia 17:5-6.
·       Kualifikasi akademis: mereka menyangka kelak setelah mereka mencapai gelar akademisnya, maka mereka akan dapat hidup tanpa Allah.
3.     Mengapa kita Harus Percaya kepada Allah?
-        Karena siapa Dia.
Dialah sang Khalik, pencipta segala sesuatu (Kej 1, Ibr 11:3). Jika Ia dapat menciptakan apa yang dapat kita lihat dari yang tak Nampak, maka kita dapat percaya bahwa Dia mengetahui akan segala kebutuhan kita, dan Ia akan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan  tepat pada saat kita akan memerlukannya, dan ditempat yang tepat pula.
-        Karena Kodrat-Nya.
Dia mengetahui segala sesuatu “Bapa yang disurga Mengetahui” (Mat 6:32b, Ibr 4:13—kemahatahuan-Nya). Dia selalu hadir dimana2, selalu siap sedia, dimana pun kita berada, untuk memenuhi kebutuhan2 kita (Kemahahadiran-Nya).
Dia dapat melakukan segala sesuatu (Maz 24:1,2). Sumber2-Nya tak terbatas dan tidak berkurang2 walaupun Dia sudah berikan begitu banyak (Kemahakuasaan-Nya).
Kesimpulan
Mengagantungkan diri kepada Allah sungguh bisa dipercaya (Yer 17:7,8). Jangan membayangkan bahwa semua orang yang diuraikan didalam Ibrani 11 adalah orang2 luar biasa. Tidak!
Mereka adalah manusia biasa saja. Tetapi saksikanlah apa yang mereka alami dengan bersandar kepada Allah—mempercayai Dia dan mematuhi-Nya. Saat ini Allah menghendaki agar anda mempercayai-Nya.
Berbahagialah orang yang belum melihat, tetapi percaya pada sabda-Nya.
Kunci Hidup yang dipulihkan adalah
Menjadikan Kristus Tujuan Hidup kita

Pendahuluan:
Defenisi kata “Tujuan”: arah, jurusan, yang dituju, maksud, tuntutan.
Setiap manusia mempunyai tujuan hidup, namun masing-masing memiliki tujuan yang
berbeda. Tujuan hidup orang Kristen adalah menjadi serupa dengan Kristus (Mat 10:25a). proses ini butuh waktu dan baru selesai kalau kita udah mati. maka nya kita perlu menggenapi tujuan hidup ini sampai akhir hidup kita.
Salomo: setelah berbicara mengenai kesia-siaan hidup ketika hidup dihidupi dengan cara seolah-olah apa yang ada hanyalah dunia dan segala yang ditawarkannya Salomo menyimpulkan dalam kitab Pengkhotbah: “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.” (Pengkhotbah 12:13-14).
Daud: Berbeda dengan orang-orang yang bagiannya adalah dalam hidup sekarang ini, Daud mencari kepuasan dalam masa yang akan datang. Dia berkata, “Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.” (Mazmur 17:15) Bagi Daud, kepuasannya yang sempurna akan datang pada hari ketika dia bangkit (dalam hidup yang akan datang) baik dalam memandang kepada Tuhan (bersekutu dengan Dia) dan menjadi sama dengan Dia (1 Yohanes 3:2).
Asaf : Maz 37:25 Asaf mengatakan apa yang berarti baginya, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Bagi Dia, hubungan dengan Allah adalah yang paling berarti dalam hidup ini.
Paulus: Rasul Paulus berbicara mengenai segala yang dia raih sebelum dipertemukan dengan Yesus yang bangkit dan bagaimana segala yang dulunya dia miliki atau berhasil raih (khususnya secara religi) sekarang bagaikan sampah saat dibandingkan dengan berharganya pengenalan akan Kristus Yesus. Dalam Filipi 3:9-10 dia mengatakan bahwa apa yang dia inginkan adalah “Berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

Kesimpulan
Tujuan dari hidup kita orang percaya bukanlah mengarah kepada hal-hal yang berhasil secara duniawi tetapi mengarahkan kepada tujuan hidup yang Kekal didalam Kristus. Kita hidup di dalam Kristus, maka kita harus memikirkan hal-hal yang rohani, dan membiarkan Kristus yang menuntun kita. Kol. 3:14. Kita harus menilai, mempertimbangkan, memikirkan segala sesuatu dan menetapkan tujuan dari sudut pandang kekekalan atau sorgawi.

Ciri-ciri dari kehidupan orang yang menjadikan Kristus sebagai Tujuan utama dalam dirinya adalah :
  1. Tinggal didalam Dia
Tinggal didalam Dia artinya hidup didalam Dia dan berpusat pada Dia. Untuk tinggal di dalam Yesus adalah memiliki Firman-Nya tinggal di dalam kamu dan mengendalikan hidup Anda sehingga Anda hidup seperti Yesus (15:7). Apapun yang kita kerjakan dan yang ada dalam diri kita(pergumulan dan setiap masalah baik dalam hal pekerjaan, pendidikan dan keuangan dll), semuanya kita relakan untuk diatur dan dikendalikan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri tanpa ada pihak lainnya (ritual dan penyembahan kepada roh-roh jahat,dll).
Rasul Paulus mengingatkan bahwa dalam kehidupan jemaat, ada orang yang sudah menerima ajaran Kristus, tetapi masih hidup menurut keinginannya sendiri dengan menambahkan banyak tradisi yang salah dan tidak perlu (Kol 2:16-17). Rasul Paulus menekankan bahwa hidup dalam Kristus membuat kita dimampukan untuk hidup kudus, benar, dan tidak bercela, karena seluruh kepenuhan ke-Allah-an berdiam secara jasmaniah di dalam Kristus (2:9-10). Rasul Paulus menjelaskan dengan gambaran bahwa suatu pohon dapat bertumbuh dan berbuah dengan baik, hanya jika ia memiliki dasar akar yang kokoh (2:7). Dari kolose ini juga mencerminkan orang hidup didalam Dia akan melimpah dengan syukur dan penuh dengan kekuatan dan ini menggambarkan jemaat yang dewasa dalam imannya pada Yesus.
Kunci pertumbuhan adalah hidup dalam Kristus. Kristus bukan hanya dasar, tetapi sekaligus bangunan dan isi hidup kita. Marilah kita menyerahkan seluruh tubuh dan pikiran kita kepada keinginan Roh Kudus, sehingga perubahan hidup terjadi bukan sebagai hasil pemaksaan, melainkan karena karakter kita dibentuk oleh Roh Kudus.
Saudara mau bertumbuh?
"Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

  1. Membersihkan Diri, Membiarkan diri untuk dipangkas oleh Kristus.
 Hidup orang kristen tidak cuma untuk lahir, menuntut ilmu, berkeluarga, hidup sukses, dan akhirnya meninggal masuk surga. Semua orang di dunia ini juga maunya kaya dan itu Udah basi. Kalau kita mau jadi kristen yang berbeda, kita harus mengerti dengan benar apa yang Tuhan mau, jadi kita punya tekad yang kuat menghadapi tekanan. Jangan jadi orang yang mudah terbawa arus (mengambil prinsip hidup hanya mengalir) karena hal kaya gini bisa bikin kita di tengah jalan kehilangan arah dan tujuan hidup. Pandang apa yang Tuhan mau kita lakukan di depan, dan hidupi dengan iman, supaya kita tidak gampang goyah.
Penderitaan, kesakitan, masalah, tantangan dan rintangan dan kita dibiarkan seolah-olah berjalan dipadang gurun yang tandus yang tiada berair dan semua ini adalah untuk membentuk kita karakter kita yang semakin memiliki karakter serupa seperti Kristus.
Contoh : Rasul Paulus, diperhadapkan dengan suatu masalah, tantangan dan rintangan dalam mengikuti dan dalam ia melayani Tuhan, namun semuanya itu tidak membuat imannya kendor dan tidak menghalanginya dalam mengikuti dan dalam ia memberitakan injil.
2 Kor 8:1-5